Internet bukanlah hal yang asing atau sesuatu yang sulit dijangkau lagi pada zaman ini. Dengan segala
kecanggihan teknologi dan informasi, tidak selamanya kita sebagai pengguna
internet merasakan dampak positifnya. Internet sebagai sarana komunikasi, pusat
informasi, perdagangan, bisnis, pendidikan dan lainnya merupakan beberapa dampak
positif yang bisa kita manfaatkan dari adanya internet. Tapi apakah semua
pengguna internet itu baik? Tidak.
Salah satu sisi
negatif internet adalah adanya seks dalam internet atau yang biasa disebut
dengan cybersex. Tidak hanya di dunia nyata, hal-hal berbau
pornografi dan prostitusi ini juga ada bahkan sangat banyak jaringannya di
internet. Bisa kita lihat dari beberapa kasus yang belakangan muncul di public,
yaitu kasus prostitusi online yang melibatkan gadis di bawah umur dan anak
lelaki di bawah umur.
Secara garis besar
terdapat 3 kategori cybersex:
• Online porn : gambar porno
dan cerita-cerita erotis
• Real
time interaction : chatting dimana topik
yang dibicarakan adalah seks,
berhubungan seksual lewat dunia maya dan webcam sex.
berhubungan seksual lewat dunia maya dan webcam sex.
• Multimedia-software : game erotis, video porno.
Internet sebagai penyedia
layanan informasi patutnya harus dijaga dan diperhatikan apalagi jika penggunanya
adalah anak atau remaja. Karena pada usia tersebut perkembangan psikoseksual
anak yang belum matang bisa saja mendorong mereka untuk melakukan hal-hal yang
tidak diinginkan karena rasa ingin tahu mereka yang sangat besar. Sekali mereka
tahu, mereka tidak akan berhenti disitu saja. Bahkan lama kelamaan mereka bisa
kecanduan.
Penyebab
adiksi/kecanduan cybersex antara
lain:
1. Aksesibilitas
Saat ini fasilitas
internet telah dapat diakses dengan sangat mudah. Dalam arti dapat dikonsumsi
secara publik dari berbagai golongan sosial tanpa memandang usia, pekerjaan,
jenis kelamin, dll.
2. Isolasi
Cybersex menawarkan kesempatan seseorang untuk terpisah dari
orang lain, dan lebih jauh lagi untuk terperosok lebih jauh lagi dalam hal
fantasi seksualnya tanpa takut tertular penyakit, kehamilan tak diinginkan,
dll.
3. Anonim
Kondisi para pelaku
cybersex yang anonim ini membuatnya lebih kecanduan menggunakan internet
sebagai fasilitas pemuas hasrat seksual. Cybersex menawarkan anonimitas, dimana
pelakunya tidak perlu takut dikenali masyarakat bila mengunjungi prostitusi,
mengunjungisex shop, striptease club, dll. Dan identitas di dunia maya pun
dapat dikaburkan.
4. Terjangkau
Saat ini, fasilitas
cybersex sangat terjangkau, dan internet juga cukup murah. Fasilitas chatting
gratis, begitu pula materi-materi porno yang terkandung dalam berbagai situs
porno juga banyak yang dapat dilihat tanpa biaya hingga dapat di-download
dengan cepat. Tentu saja dibandingkan dengan jasa prostitusi yang berbayar dan
berisiko tertular penyakit.
5. Fantasi
Cybersex juga
menawarkan bagi pelakunya untuk berfantasi secara bebas dimana mungkin
fantasinya itu bertentangan dengan norma masyarakat. Termasuk didalamnya adalah
menentukan kriteria fisik lawan jenis yang diinginkan, skenario chat sex yang
akan dinikmati, dll.
Pekerjaan kita
adalah bagaimana agar cybersex ini
tidak merusak generasi muda. Melakukan penindakan terhadap oknum-oknum tidak
bertanggung jawab dan waspada terhadap segala bentuk umpan yang ada di
internet.
sources :
http://ddilanurul.blogspot.co.id/2016/01/2pa04-tugas-iv-nurul-fadillah-seks.html
https://intansarah.wordpress.com/2015/01/10/fenomena-fenomena-psikologi-dan-internet-seks-dalam-internet/