Selasa, 15 November 2016

Cybersex (seks dalam internet)

Internet bukanlah hal yang asing atau sesuatu yang sulit dijangkau lagi pada zaman ini. Dengan segala kecanggihan teknologi dan informasi, tidak selamanya kita sebagai pengguna internet merasakan dampak positifnya. Internet sebagai sarana komunikasi, pusat informasi, perdagangan, bisnis, pendidikan dan lainnya merupakan beberapa dampak positif yang bisa kita manfaatkan dari adanya internet. Tapi apakah semua pengguna internet itu baik? Tidak.

Salah satu sisi negatif internet adalah adanya seks dalam internet atau yang biasa disebut dengan cybersex.  Tidak hanya di dunia nyata, hal-hal berbau pornografi dan prostitusi ini juga ada bahkan sangat banyak jaringannya di internet. Bisa kita lihat dari beberapa kasus yang belakangan muncul di public, yaitu kasus prostitusi online yang melibatkan gadis di bawah umur dan anak lelaki di bawah umur.  

Secara garis besar terdapat 3 kategori cybersex:
•           Online porn                 : gambar porno  dan cerita-cerita erotis
•           Real time interaction   : chatting dimana topik yang dibicarakan adalah seks,
                                      berhubungan seksual lewat dunia maya dan webcam sex.
•           Multimedia-software  : game erotis, video porno.

Internet sebagai penyedia layanan informasi patutnya harus dijaga dan diperhatikan apalagi jika penggunanya adalah anak atau remaja. Karena pada usia tersebut perkembangan psikoseksual anak yang belum matang bisa saja mendorong mereka untuk melakukan hal-hal yang tidak diinginkan karena rasa ingin tahu mereka yang sangat besar. Sekali mereka tahu, mereka tidak akan berhenti disitu saja. Bahkan lama kelamaan mereka bisa kecanduan.

Penyebab adiksi/kecanduan cybersex antara lain:
1. Aksesibilitas
Saat ini fasilitas internet telah dapat diakses dengan sangat mudah. Dalam arti dapat dikonsumsi secara publik dari berbagai golongan sosial tanpa memandang usia, pekerjaan, jenis kelamin, dll.
2. Isolasi
Cybersex menawarkan kesempatan seseorang untuk terpisah dari orang lain, dan lebih jauh lagi untuk terperosok lebih jauh lagi dalam hal fantasi seksualnya tanpa takut tertular penyakit, kehamilan tak diinginkan, dll.
3. Anonim
Kondisi para pelaku cybersex yang anonim ini membuatnya lebih kecanduan menggunakan internet sebagai fasilitas pemuas hasrat seksual. Cybersex menawarkan anonimitas, dimana pelakunya tidak perlu takut dikenali masyarakat bila mengunjungi prostitusi, mengunjungisex shop, striptease club, dll. Dan identitas di dunia maya pun dapat dikaburkan.
4. Terjangkau
Saat ini, fasilitas cybersex sangat terjangkau, dan internet juga cukup murah. Fasilitas chatting gratis, begitu pula materi-materi porno yang terkandung dalam berbagai situs porno juga banyak yang dapat dilihat tanpa biaya hingga dapat di-download dengan cepat. Tentu saja dibandingkan dengan jasa prostitusi yang berbayar dan berisiko tertular penyakit.
5. Fantasi
Cybersex juga menawarkan bagi pelakunya untuk berfantasi secara bebas dimana mungkin fantasinya itu bertentangan dengan norma masyarakat. Termasuk didalamnya adalah menentukan kriteria fisik lawan jenis yang diinginkan, skenario chat sex yang akan dinikmati, dll.


Pekerjaan kita adalah bagaimana agar cybersex ini tidak merusak generasi muda. Melakukan penindakan terhadap oknum-oknum tidak bertanggung jawab dan waspada terhadap segala bentuk umpan yang ada di internet. 


sources :

http://ddilanurul.blogspot.co.id/2016/01/2pa04-tugas-iv-nurul-fadillah-seks.html
https://intansarah.wordpress.com/2015/01/10/fenomena-fenomena-psikologi-dan-internet-seks-dalam-internet/