Pages

Kamis, 27 Desember 2018

Model Sistem E-Therapy


Group project by : 
Megaputri Caesaria (14515113) 
Nina Kusuma Dewi (15515071) 
Wella Wulandari  (17515115)

 Setelah tahun-tahun berlalu dan dunia telah berkembang, profesi psikologi pun juga telah berevolusi. Profesi psikolog dan psikoterapis kini tidak lagi di batasi oleh batas-batas geografis. Setelah melalui riset dan mengikuti arus perkembangan zaman, dalam beberapa tahun terakhir kita telah mengalami pembaharuan yang dinamakan E-Therapy. Tidak ada definisi yang tepat tentang e-therapy, melainkan mencakup kontak atau komunikasi elektronik apapun antara terapis dan klien misalkan melalui e-mail atau konversi video. 
Keuntungan utama dari proses ini adalah, klien yang hingga kini ragu-ragu untuk mencari layanan psikolog, klien yang pemalu atau sulit mencari bantuan profesional secara terbuka dapat menemukan konsultasi online sebagai awal yang baik. Aspek penting lainnya adalah manfaat terapi email untuk klien yang tidak dapat mengakses terapi tatap muka karena alasan geografis, karena alasan kecacatan, atau karena keadaan hidup yang berada dalam hubungan yang kejam di mana mencari pertolongan di luar rumah akan sulit, e-therapy adalah penyedia layanan dengan fleksibilitas yang tinggi menjadikan nya keuntungan terkuat. Studi awal yang melakukan riset tentang videoconferencing untuk terapi sebagian besar terjadi di Amerika Serikat, Australia dan Skotlandia dan telah menguji berbagai model dan metode terapeutik, termasuk psikoanalisis terapi kognitif-perilaku, terapi keluarga dan video-hypnosis. Selain itu, berbagai kelompok klien telah terlibat, termasuk anak-anak dan keluarga, orang dewasa dan lansia. Sampai saat ini, masih ada investigasi apakah kelompok klien tertentu mendapat manfaat lebih banyak atau lebih sedikit dari terapi berbasis video conferencing. Namun, sejauh ini, telah ditemukan memiliki manfaat untuk klien dengan berbagai masalah, termasuk bulimia nervosa, obesitas dan skizofrenia.
Setiap layanan berbasis web harus fokus pada pentingnya batas privasi, kerahasiaan dan keamanan. Terapis harus mengadakan setidaknya pertemuan tatap muka pertama dengan klien untuk mengidentifikasi dan menentukan apakah dapat menggunakan e-terapi dengan klien pada kasus nya. 
SISTEM PADA E-THERAPY/TERAPI ONLINE

1.      Pada gambar diatas merupakan sebuah aplikasi E-Therapy. Langkah pertama yang harus dilakukan yaitu Log in jika sudah memiliki akun atau jika belum memiliki akun maka harus membuatnya terlebih dahulu dengan memilih Register now.

    Jika sudah log in atau masuk maka akan muncul gambar diatas, yang merupakan form data diri yang harus klien isi terlebih dahulu sebelum memulai konsultasi dan terapi.

 Jika sudah mengisi form data diri maka akan muncul tampilan seperti diatas. Untuk Journal klien dapat membaca mengenai masalah-masalah psikologis, Profil Terapis klien dapat melihat profil dari para terapis yang ada pada E-therapy, Counsult and Therapy klien dapat berkonsultasi mengenai masalah yang dialami klien dan kemudian melakukan terapi untuk mengatasi permasalahan klien.




2.     Setelah memilih Counsult and Therapy klien akan melakukan konsultasi dan terapi online dengan terapis melalui video call yang tersedia pada aplikasi e-therapy atau terapi online.
2.  
1.      


Sabtu, 10 November 2018

TUGAS 2 : SISTEM INFORMASI PSIKOLOGI

A. Sistem
Menurut Poerwadarminta (2003) sistem adalah sekelompok bagian-bagian yang berupa alat dan lain sebagainya, yang bekerja sama untuk melaksanakan tujuan tertentu.
Selain itu, menurut Jogiyanto (2005) sistem adalah suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan, berkumpul bersama-sama untuk melakukan suatu kegiatan untuk menyelesaikan suatu sasaran yang tertentu.
Sedangkan menurut Gaol (2008) sistem adalah hubungan satu unit dengan unit lainnya yang saling berhubungan satu sama lainnya dan yang tidak dapat dipisahkan serta menuju satu kesatuan dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Berdasarkan pengertian beberapa tokoh tersebut, dapat disimpulkan bahwa sistem adalah sekelompok bagian-bagian yang saling berhubungan untuk melakukan kegiatan guna mencapai tujuan tertentu.

B. Elemen Sistem
     Menurut Anggraeni & Irvani (2017) elemen sistem adalah bagian terkecil sistem yang dapat di identifikasikan. jika sebuah sistem cukup besar yang terdiri dari subsistem-subsistem, maka elemen sistem terdapat pada tingkatan yang paling rendah yang dapat di kategorikan sebagai individu.

Elemen-elemen sistem terdiri dari:
Energi : Memiliki atribut yaitu jumlah dan ongkos energi.
Tenaga kerja : Memiliki atribut, yaitu jumlah tenaga kerja dan upah.
Mesin dan Peralatan : Memiliki atribut, yaitu jenis, jumlah dan kapasitas.
Bahan baku : Memiliki atribut, yaitu harga barang baku, jumlah bahan baku dan ongkos.
Bahan Produk : Memiliki atribut jumlah permintaan, jumlah produk dan harga jual.


C. Karakteristik Sistem
     Menurut Anggraeni & Irvani (2017) sistem mempunyai beberapa karaktersitik atau sifat tertentu, antara lain:

Komponen Sistem (Component): Suatu sistem terdiri dari sejumlah komponen yang salin berinteraksi, yang saling bekerja sama membentuk suatu komponen sistem.
Batasan Sistem (Boundary): Merupakan daerah yang membatasi suatu sistem dengan sistem yang lain dengan lingkungan kerja nya.
Subsistem (Sub System): Bagian-bagian dari sistem yang beraktivitas dan berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan dengan sasaran nya masing-masing.
Lingkungan Luar sistem (Environment): Suatu sistem yang ada di luar dari batas sistem yang dipengaruhi oleh operasi sistem.
Penghubung Sistem (Interface): Media penghubung antara suatu sub sistem dengan sub sistem lain. Adanya penghubung ini memungkinkan berbagai sumber daya mengalir dari suatu sub sistem ke sub sistem lain nya.
Masukan Sistem (Input): Energi yang masuk ke dalam sistem, berupa perawatan dan sinyal. Masukan perawatan adalah enerdi yang dimasukan supaya sistem tersebut dapat berinteraksi.
Keluaran Sistem (Output): Hasil energi yang diolah dan diklasifikasikan menjadi keluaran yang berguna dan sisa pembuangan.
Pengolahan Sistem (Process): Suatu sistem dapat mempunyai suatu bagian pengolahan yang akan mengubah masukan menjadi keluaran.
Sasaran Sistem (Object): Tujuan yang ingin dicapai oleh sistem, akan dikatakan berhasil apabila mengenai sasaran atau tujuan.

D. Kriteria Sistem
     Menurut Anggraeni & Irvani (2017) ada beberapa kriteria sistem, diantaranya adalah sebagai berikut:

Sistem Deterministik: Sistem yang beroprasi melalui cara yang dapat diramalkan secara tepat. Misalnya program komputer yang melaksanakan secara tepat sesuai dengan rangkaian instruksinya.
Sistem Probabilistik: Sistem yang dapat diuraikan dalam perilaku yang mungkin, tetapi selalu ada sedikit kesalahan ramalan terhadap jalan nya sistem.
Sistem Tertutup: Sistem yang mandiri (Self Contained), sistem ini tidak bertukar materi, infomasi atau energi dengan lingkungan nya.
Sistem Relatif Tertutup: Sistem yang relatif tersosialisasi dari lingkungan nya tetapi tidak sama sekali tertutup dalam arti fisik, hanya menerima masukan yang telah ditentukan sebelumnya, dengan mengelola dan memberi keluaran, yang juga telah ditentukan sebelumnya serta memiliki masukan dan keluaran yang terkendali.
Sistem Terbuka: Sistem yang mengadakan pertukaran informasi, materi atau energi dengan lingkungan nya. Sistem ini cenderung memiliki adaptasi, yaitu dapat menyesuaikan diri terhadap perubahan dalam lingkungan nya, sehingga dapat meneruskan eksistensi nya. Sistem ini juga mengorganisasikan diri dan mengubah organisasinya sebagai tanggapan atas perubahan keadaan.

E. E-Therapy
      Setelah tahun-tahun berlalu dan dunia telah berkembang, profesi psikologi pun juga telah berevolusi. Profesi psikolog dan psikoterapis kini tidak lagi di batasi oleh batas-batas geografis. Setelah melalui riset dan mengikuti arus perkembangan zaman, dalam beberapa tahun terakhir kita telah mengalami pembaharuan yang dinamakan E-Therapy. Tidak ada definisi yang tepat tentang e-therapy, melainkan mencakup kontak atau komunikasi elektronik apapun antara terapis dan klien misalkan melalui e-mail atau konversi video. 
Keuntungan utama dari proses ini adalah, klien yang hingga kini ragu-ragu untuk mencari layanan psikolog, klien yang pemalu atau sulit mencari bantuan profesional secara terbuka dapat menemukan konsultasi online sebagai awal yang baik. Aspek penting lainnya adalah manfaat terapi email untuk klien yang tidak dapat mengakses terapi tatap muka karena alasan geografis, karena alasan kecacatan, atau karena keadaan hidup yang berada dalam hubungan yang kejam di mana mencari pertolongan di luar rumah akan sulit, e-therapy adalah penyedia layanan dengan fleksibilitas yang tinggi menjadikan nya keuntungan terkuat. Studi awal yang melakukan riset tentang videoconferencing untuk terapi sebagian besar terjadi di Amerika Serikat, Australia dan Skotlandia dan telah menguji berbagai model dan metode terapeutik, termasuk psikoanalisis terapi kognitif-perilaku, terapi keluarga dan video-hypnosis. Selain itu, berbagai kelompok klien telah terlibat, termasuk anak-anak dan keluarga, orang dewasa dan lansia. Sampai saat ini, masih ada investigasi apakah kelompok klien tertentu mendapat manfaat lebih banyak atau lebih sedikit dari terapi berbasis video conferencing. Namun, sejauh ini, telah ditemukan memiliki manfaat untuk klien dengan berbagai masalah, termasuk bulimia nervosa, obesitas dan skizofrenia.

Setiap layanan berbasis web harus fokus pada pentingnya batas privasi, kerahasiaan dan keamanan. Terapis harus mengadakan setidaknya pertemuan tatap muka pertama dengan klien untuk mengidentifikasi dan menentukan apakah dapat menggunakan e-terapi dengan klien pada kasus nya. 

Kamis, 04 Oktober 2018

SISTEM INFORMASI PSIKOLOGI


BAB I
PENDAHULUAN
Tidak dapat dipungkiri, kehidupan manusia saat ini sangat erat dengan teknologi dan sistem yang tersusun secara modern. Kegiatan sehari-hari manusia dipermudah dengan berbagai teknologi yang ada. Pertukaran informasi juga berlansung secara cepat. Tidak ada lagi waktu lama untuk menunggu datangnya surat atau berita terkini, semua sudah ada dalam genggaman tangan manusia melalui smartphone. Kemajuan teknologi saat ini juga mempengaruhi perkembangan keilmuan psikologi, dimana sudah ada biro-biro psikologi yang menawarkan konseling secara online. Untuk itu marilah kita lihat terlebih dahulu penjelasan mengenai sistem informasi dalam bidang psikologi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi Sistem
Menurut Poerwadarminta (2003) sistem adalah sekelompok bagian-bagian yang berupa alat dan lain sebagainya, yang bekerja sama untuk melaksanakan tujuan tertentu.
Selain itu, menurut Jogiyanto (2005) sistem adalah suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan, berkumpul bersama-sama untuk melakukan suatu kegiatan untuk menyelesaikan suatu sasaran yang tertentu.
Sedangkan menurut Gaol (2008) sistem adalah hubungan satu unit dengan unit lainnya yang saling berhubungan satu sama lainnya dan yang tidak dapat dipisahkan serta menuju satu kesatuan dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Berdasarkan pengertian beberapa tokoh tersebut, dapat disimpulkan bahwa sistem adalah sekelompok bagian-bagian yang saling berhubungan untuk melakukan kegiatan guna mencapai tujuan tertentu.
B. Definisi Informasi
Menurut Bodnar & Hopwood (2000) informasi merupakan data yang diolah sedemikian rupa sehingga bisa dijadikan dasar dalam mengambil sebuah keputusan yang tepat dan benar.
Menurut Jogiyanto (2005) informasi adalah hasil dari pengolahan data dalam suatu bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi penerimanya, yang menggambarkan suatu kejadian-kejadian yang nyata yang berguna untuk para pengambil keputusan.
Selain itu, menurut Alamsyah (2005) informasi adalah data yang telah diolah dengan cara tertentu sesuai dengan bentuk yang diperlukan.
Menurut Sutabri (2012) informasi adalah data yang diolah dan diinterpretasikan untuk mengambil sebuah keputusan.
Berdasarkan pengertian menurut tokoh diatas, dapat disimpulkan bahwa informasi adalah hasil pengolahan data yang diolah dengan cara tertentu lalu diinterpretasikan untuk digunakan dalam pengambilan keputusan.
C. Definisi Psikologi
Menurut Aristoteles & Plato (dalam Daulay, 2014) Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang hakikat jiwa serta prosesnya sampai akhir.
Menurut Clifford T. Morgan (dalam Sarwono, 2009) berpendapat bahwa psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dan hewan.
Sedangkan Gardner Murphy (dalam Sarwono, 2009) berpendapat bahwa psikologi adalah ilmu yang mempelajari respons yang diberikan oleh makhluk hidup terhadap lingkungannya.
Berdasarkan pengertian menurut tokoh diatas, dapat disimpulkan bahwa psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dalam merespon lingkungannya.
D. Sistem Informasi Psikologi
Berdasarkan pengertian istilah-istilah diatas, maka dapat disimpulkan bahwa sistem informasi psikologi adalah suatu sistem yang didalamnya terdapat kombinasi dari manusia dan teknologi yang dimaksudkan mengolah data mengenai perilaku manusia sehingga menghasilkan informasi yang dapat digunakan untuk tujuan tertentu. 
E. Contoh Kasus
Kemajuan teknologi saat ini juga mempengaruhi perkembangan keilmuan psikologi, dimana sudah ada biro-biro psikologi yang menawarkan konseling atau tes psikologi secara online. Adanya konseling dan tes psikologi online tersebut membantu klien yang tidak memiliki waktu untuk bertemu lansung dengan konselor atau psikolognya. Hal lain yang berkembang adalah adanya aplikasi-aplikasi yang dibuat untuk membantu tes-tes psikologi, seperti VmWare Workstation yang berisi rangkaian tes-tes kepribadian dan intelegensi yang dapat dilakukan secara individu oleh klien. Kemudian, hasilnya juga lansung dapat muncul dalam bentuk score.

BAB III
PENUTUP
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa sistem informasi psikologi adalah suatu sistem yang didalamnya terdapat kombinasi dari manusia dan teknologi yang dimaksudkan mengolah data mengenai perilaku manusia sehingga menghasilkan informasi yang dapat digunakan untuk tujuan tertentu. Kemajuan teknologi saat ini juga mempengaruhi perkembangan keilmuan psikologi, dimana sudah ada biro-biro psikologi yang menawarkan konseling atau tes psikologi secara online.
Namun tidak dapat dipungkiri, konseling dan tes psikologi online tersebut juga dapat menimbulkan bias dan ’faking good’ bagi klien. Sehingga diharapkan tetap adanya pertemuan lansung antara psikolog/konselor dengan klien.

DAFTAR PUSTAKA

Daulay, N. (2014). Pengantar psikologi dan pandangan Al-Quran tentang psikologi. Jakarta:                               Kencana.
Gaol, J.L. (2008). Sistem informasi manajemen. Jakarta : PT Gramedia
Jogiyanto. (2005). Analisis dan desain sistem informasi.Yogyakarta : Penerbit Andi                                Poerwadarminta, W.J.S. (2003). Kamus umum bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
Sarwono, S. W. (2009). Pengantar psikologi umum. Jakarta : Rajawali Pers














Senin, 01 Januari 2018

KURIKULUM BERDIFERENSIASI PADA ANAK BERBAKAT

Kurikulum merupakan metode menyusun kegiatan-kegiatan belajar mengajar untuk menghasilkan perkembangan kognitif, efektif, dan psikomotorik anak. Menurut Sato (1982) kurikulum mencakup semua pengalaman yang diperoleh siswa di sekolah, di rumah dan dalam masyarakat, dan yang membantunya mewujudkan potensinya.

Kurikulum berdiferensiasi adalah jawaban terhadap perbedaan-perbedan dalam minat dan kemampuan anak didik. Sehingga, dengan kurikulum berdiferensiasi setiap anak memiliki peluang besar untuk terus meningkatkan kemampuannya tanpa harus terikat oleh satu kurikulum umum yang menyamaratakan kemampuan seluruh anak. Kendati demikian, pada dasarnya kurikulum berdiferensiasi tetap bertitik tolak pada kurikulum umum yang menjadi dasar bagi semua anak didik. Kurikulum berdiferensiasi juga memberikan pengalaman belajar berupa dasar-dasar keterampilan, pengetahuan, pemahaman, serta pembentukan sikap dan nilai yang memungkinkan anak didik berfungsi sesuai dengan tuntutan masyarakat atau jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Berbeda dengan kurikulum umum yang bertujuan untuk dapat memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anak pada umumnya, maka kurikulum berdiferensiasi merupakan jawaban terhadap perbedaan-perbedan dalam minat dan kemampuan anak didik. Sehingga, dengna kurikulum berdiferensiasi setiap anak memiliki peluang besar untuk terus meningkatkan kemampuannya tanpa harus terikat oleh satu kurikulum umum yang menyamaratakan kemampuan seluruh anak.

Menurut Kaplan (1977), perkembangan kurikulum dewasa ini menekankan penggunaan kurikulum secara fleksibel sesuai dengan kebutuhan guru dan siswa yang memungkinkan keragaman cara untuk mencapai sasaran belajar. Bahkan dalam kurikulum semacam ini tidak tertutup kemungkinan bahwa siswa pada saat-saat tertentu merumuskan sendiri sasaran-sasaran belajarnya.

Suatu kurikulum dapat berdiferensiasi melalui materi (konten atau muatan), proses, dan produk belajar yang lebih maju dan majemuk, serta dapat dirancang dengan cara sebagai berikut.

Kurikulum Berdiferensiasi Menyesuaikan dengan Kurikulum Umum

1. Menambah hal-hal baru yang menarik dan menantang bagi anak berbakat. Misalnya dengan menambahkan muatan tugas yang dianggap menantang kemampuan yang dimiliki anak berbakat.
2. Mengubah bagian-bagian tertentu yang kurang sesuai. Karena anak berbakat memiliki kemampuan memahami pelajaran dan pengetahuan yang melampaui anak pada umumnya, biasanya pemberian materi kepada anak berbakt lebih menyesuaika kemampuan anak. Sehingga, anada beberapa bagian yang diterima anak umum di kelas tetapi tidak diterima oleh anak berbakat.
3. Mengurangi kegiatan-kegiatan yang terlalu rutin. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, anak berbakat memiliki tingkat kemampuan memahami pelajaran yang lebih tinggi dibandingkan anak umum, jadi beberapa kegiatan atau pelajaran yang dapat dikerjakan sendiri dan tanpa bantuan berarti dari pendidik sebaiknya dikurangi.
4. Meluaskan dan mendalami materi. Karena sifat yang cenderung kurang puas dan mendetail, pemberian materi pembelajaran kepada anak berbakat sebaiknya lebih diluaskan dan mendalam.

Kurikulum Berdiferensiasi dengan Menggunakan Kurikulum yang Baru atau Khusus
Cara kedua ini adalah dengan menggunakan kurikulum yang benar-benar berbeda dengan anak umum dan disesuaikan dengan keberbakatan anak.
Untuk menyusun sebuah kurikulum, pendidik harus mengetahui beberapa asas kurikulum sebagai berikut:

1. Berkaitan dengan mata pelajaran. Yaitu, kegiatan bekajar dikaitkan dengan mata pelajaran atau materi tertentu. Contohnya, ketika anak belajar bagian-bagian serangga, anak dapat mencari sendiri serangga-serangga yang akan dipelajarinya di lingkungan sekolah.
2. Berorientasi dengan proses. Maksudnya, kegiatan belajar mengajar  menekankan perkembangan keterampilan dan proses berpikir daripada hanya materi. Contohnya, ketika anak sudah mengenal bagian-bagian serangga, anak dapat menganalogikan bagian-bagian tersebut dengan bagian-bagian kendaraan.
3. Berpusat pada kegiatan aktif. Yaitu kegiatan belajar sepenuhnya mengikutsertakan anak secara aktif. Sehingga, dapat menghidupkan suasana keilmuan yang penuh akan diskusi dan saling bertukar pikiran.
4. Penerapan tugas berakhir terbuka.Dengan asas ini tidak ada istilah “benar” dan “salah” dalam hasil tugas siswa, tetapi seluruhnya berdasarkan pengalaman setiap anak.
5. Memungkinkan anak memilih. Asas ini memberikan peluang kepada setiap anak sesuai dengan kebutuhan, minat, dan kemampuan masing-masing. Sehingga, sekolah seharusnya menyediakan sarana atas minat dan bakat anak.

Tiga hal yang membedakan penerapan kurikulum berdiferensiasi dengan kurikulum umum:
1. Konten. Muatan atau materi yang diberikan kepada anak berbekat berbeda-beda sesuai dengan minat dan kemampuan anak.
2. Proses. Proses belajar anak berbakat, entah itu waktu maupun caranya, dibedakan dengan anak umumnya sesuai dengan tingkat kemampuan anak.
3. Produk. Dalam hal penugasan, anak berbakat diberikan beban produk yang lebuh rumit dan kompleks daripada anak umum. Produk belajar itu sendiri dapat berupa lisan, tulisan, ataupun benda.

Sumber : https://fatinahmunir.blogspot.co.id/2012/08/kurikulum-berdiferensiasi-untuk-anak.html?m=1

Kamis, 09 November 2017

ANAK BERBAKAT : IMPLIKASI DALAM PEMBELAJARAN



Related image
A.    Pengertian Anak Berbakat
Menurut Joseph Renzulli (1978), anak berbakat merupakan satu interaksi diantara tiga sifat dasar manusia yang menyatu ikatan terdiri dari kemampuan umum dengan tingkatnya di atas kemampuan rata- rata, komitmen yang tinggi terhadap tugas dan kreativitas yang tinggi.
Menurut Swssing (1985) Anak berbakat ialah anak yang memiliki kecakapan dalam mengembangkan gabungan ketiga sifat ini dan mengaplikasikan dalam setiap tindakan yang bernilai. Anak-anak yang mampu mewujudkan ketiga sifat itu masyarakat memperoleh kesempatan pendidikan yang luas dan pelayanan yang berbeda dengan program-program pengajaran yang reguler.
Menurut Marland (1972) Anak berbakat adalah mereka yang diidentifikasi oleh ahli yang profesional sebagai memiliki kemampuan yang menonjol untuk berkinerja tinggi. Anak-anak ini memerlukan program pendidikan dan atau pelayanan yang dibedakan, melebihi yang biasa disediakan oleh program sekolah reguler, agar dapat merealisasikan kontribusinya terhadap dirinya sendiri maupun masyarakat.
Jadi dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa, Anak berbakat adalah anak yang memiliki kecakapan dalam berinteraksi di antara tiga sifat dasar manusia dimana mereka telah diidentifikasi oleh ahli sebagai memiliki kemampuan menonjol untuk berkinerja tinggi.
B.     Ciri-ciri Anak Berbakat
Menurut Matinson (1974) ciri-ciri anak berbakat yaitu :
1.    Mempunyai pengamatan yang tajam. Sesuatu yang biasa saja di mata orang orang menjadi hal yang sangat menarik dan harus dianalisis oleh anak berbakat.
2.    Dapat berkonsentrasi untuk waktu yang panjang pada tugas dan minatnya.
3.    Berpikir kritis, bahkan terhadap diri sendiri. Anak berbakat lebih banyak bertanya terhadap apa yang ada di lingkungannya dan terhadap dirinya sendiri. Jika memiliki masalah, anak berbakat tidak hanya menanyakan kenapa dirinya bisa seperti ini tapi juga menganalisa ke belakang dan dampaknya ke depan.
4.    Senang mencoba hal-hal baru. Anak berbakat cenderung penantang dalam mencari pengalaman. Keinginan anak berbakat atas segala hal yang menarik baginya diikuti oleh keinginan yang kuat dan kefokusan yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak normal pada umumnya.
5.    Mempunyai daya abstraksi, konseptualisasi, dan sintesis yang tinggi.
6.    Senang terhadap kegiatan intelektual dan pemecahan masalah.
7.    Cepat menangkap hubungan-hubungan sebab akibat.
8.    Berperilaku terarah pada tujuan. Anak berbakat memiliki tingkat kefokusan tinggi pada tujuan akhirnya.
9.    Mempunya daya imajinasi yang kuat.
10.                        Memiliki banyak kegemaran. Mempunyai daya tarik pada banyak hal dan tetap fokus pada banyak hal tersebut.
11.                        Mempunyai daya ingat yang kuat.
12.                        Tidak cepat puas dnegan prestasinya.
13.                        Peka (sensitif) dan menggunakan intuisi (firasat).
14.                        Menginginkan kebebasan dalam gerakan dan tindakan.

C.     Implementasi dalam Pembelajaran
Perlu dipahami adalah bahwa anak berbakat umumnya tidak hanya belajar lebih cepat, tetapi juga sering menggunakan cara yang berbeda dari teman-teman seusianya. Hal ini tidak jarang membuat guru di sekolah mengalami kewalahan, bahkan sering merasa terganggu dengan anak-anak seperti itu. Di samping itu anak berbakat istimewa biasanya memiliki kemampuan menerima informasi dalam jumlah yang besar sekaligus. Jika ia hanya mendapat sedikit informasi maka ia akan cepat menjadi “kehausan” akan informasi.
Implikasi bagi guru anak berbakat menurut Barbie dan Renzulli (1975) adalah sebagai berikut:

1.      Guru perlu memahami diri sendiri, karena anak yang belajar tidak hanya dipengaruhi oleh apa yang dilakukan guru, tetapi juga bagaimana guru melakukannya.
2.      Guru perlu memiliki pengertian tentang keterbakatan
3.      Guru hendaknya mengusahakan suatu lingkungan belajar sesuai dengan perkembangan yang unggul dari kemampuan-kemampuan anak
4.      Guru memberikan tantangan daripada tekanan
5.      Guru tidak hanya memperhatikan produk atau hasil belajar siswa, tetapi lebih-lebih proses belajar.
6.      Guru lebih baik memberikan umpan balik daripada penilaian harus menyediakan beberapa alternatif strategi belajar
7.      Guru hendaknya dapat menciptakan suasana di dalam kelas yang menunjang rasa harga diri anak serta dimana anak merasa aman dan berani mengambil resiko dalam menentukan pendapat dan keputusan.

Sources :
https://mellyhandayanicyrus.wordpress.com/2015/05/16/implementasi-teori-barbe-dan-renzulli-dalam-pembelajaran/
http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_BIASA/195106011979031-DIDI_TARSIDI/Makalah%26Artikel_Tarsidi_PLB/GIFTED.pdf

https://fatinahmunir.blogspot.co.id/2012/08/ciri-ciri-anak-berbakat-menurut.html

Senin, 09 Oktober 2017

PENGERTIAN KREATIFITAS 4P

Pengertian Kreatifitas 4P (Produk, Proses, Pendorong, Pribadi) & Operasional Kreatifitas

Kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata, baik dalam bentuk ciri-ciri aptitude maupun non aptitude, baik dalam karya baru maupun kombinasi dengan hal-hal yang sudah ada, yang semuanya itu relatif berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya.

Kreativitas manusia melahirkan pencipta besar yang mewarnai sejarah kehidupan umat manusia dengan karya-karya spektakulernya.
Kreativitas dahulu dianggap sebagai ”anugrah yang ajaib”, yang hanya dimiliki oleh segelintir orang.  Sekarang kita tahu bahwa kecerdasan merupakan anugrah ajaib yang dimiliki semua orang.  Menguraikan kekuatan kecerdasan kreatif hanyalah masalah memahami bagaimana melakukannya
Kreativitas bisa dimiliki semua orang dengan membangun potensi kreatif dalam dirinya .

Definisi Kreativitas 4 P (Product, Process, Press, Person)
1. Person (Pribadi)
Ditinjau dari aspek pribadi, kreativitas muncul dari interaksi pribadi yang unik dengan lingkungannya.
Faktor pribadi yang kreatif menurut Roger (dalam Afifa, 2007) :
· Keterbukaan kepada pengalaman,
· Kemampuan untuk memberikan penilaian secara internal sesuai dengan lokus pribadinya.
· Kemampuan untuk secara spontan bereksplorasi bermain dengan elemen-elemen dan konsep-konsep.
2. Process (Proses)
Ditinjau sebagai proses, menurut Torrance (1988) kreativitas adalah proses merasakan dan mengamati adanya masalah, membuat dugaan tentang kekurangan (masalah) ini, menilai, dan menguji dugaan atau hipotesis, kemudian mengubah dan mengujinya lagi, dan akhirnya menyaipaikan hasil-hasilnya.
3. Press (Pendorong)
Ditinjau dari aspek pendorong kreativitas dalam perwujudannya memerlukan dorongan internal maupun eksternal dari lingkungan.
4. Product (Produk)
Definisi produk kreativitas menekankan bahwa apa yang dihasilkan dari proses kreativitas adalah sesuatu yang baru, orisinil, dan bermakna.
(Munandar, 2002)
Mengenali bakat, ciri pribadi, mendorong dengan motivasi, menyediakan waktu dan sarana prasarana, serta mempertunjukkan hasil karya guna menggugah minat untuk berkreasi akan membuat individu terpacu untuk kreatif
(Munandar dalam Afifa, 2007)
menyatakan bahwa suatu karya cipta pada hakikatnya tidaklah baru sama sekali tetapi merupakan pengembangan atau kombinasi baru berdasarkan data, informasi atau unsurunsur yang sudah ada sebelumnya.
(Stein dalam Basuki, 2010)
menyatakan bahwa suatu produk baru dapat disebut karya kreatif jika mendapatkan pengakuan (penghargaan) oleh masyarakat pada waktu tertentu.

Ciri – ciri dari kreativitas itu sendiri sebagai berikut :
1. Dorongan ingin tahu besar.
2. Sering mengajukan pertanyaan yang baik.
3. Memberikan banyak gagasan dan usul terhadap suatu masalah.
4. Bebas dalam menyatakan pendapat.
5. Mempunyai rasa keindahan.
6. Menonjol dalam salah satu bidang seni.
7. Mempunyai pendapat sendiri dan dapat mengungkapkannya, tidak mudah terpengaruh orang lain.
8. Memiliki rasa humor tinggi.
9. Daya imajinasi kuat.
10. Keaslian (orisinalitas) tinggi (tampak dalam ungkapan, gagasan, karangan, pemecahan masalah).
11. Dapat bekerja sendiri.
12. Kemampuan elaborasi (mengembangkan atau memerinci) suatu gagasan.
13. Selain  itu ciri-ciri kreativitas dapat dilihat dari seseorang yang memiliki rasa ingin tahu (sense of curiosity),kebutuhan untuk berprestasi (need of achievement), dapat beradaptasi (adaptable) dan memiliki kemampuan menempuh resiko.
Definisi Operasional Kreatifitas
* Kreativitas merupakan kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan (fleksibilitas), dan originalitas dalam berfikir, serta kemampuan untuk mengelaborasi (mengembangkan, memperkaya, memperinrci suatu gagasan (Munandar dalam Basuki, 2010)


Source : http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2010/02/pengertian-kreatifitas-4p-produk-proses-pendorong-pribadi-operasional-kreatifitas/

Selasa, 27 Desember 2016

GAME ONLINE | DAMPAK POSITIF DAN NEGATIF

Kehidupan manusia abad ini sangat terkait dengan teknologi dan internet. Internet tak hanya hadir sebagai media pemberi informasi tetapi juga bisa sebagai media hiburan. Sebagai contoh produk internet sebagai media entertaining adalah game online.  Kita sudah tidak asing dengan dua kata tersebut. Game online adalah permainan yang menggunakan internet sebagai penyedia layanan dalam bermain atau bisa juga didefinisikan sebagai fasilitas permainan digital yang dapat terhubung dengan puluhan orang sekaligus serta dengan beragam permainan yang menarik. Game online sendiri banyak diminati dari berbagai usia, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa.
Game online terbagi menjadi dua jenis yaitu web based game dan text based game. Web based game adalah aplikasi game yang diletakkan pada server di internet dimana pemain hanya perlu menggunakan akses internet dan browser untuk mengakses game tersebut. Jadi tidak perlu menginstal atau mengepatch untuk memainkan gamenya. Sedangkan text based game bias dibilang sebagai awal dari web based games. Text based games sudah ada sejak lama, dimana saat sebagian besar komputer masih berspesifikasi rendah dan sulit untuk memainkan games dengan grafis yang hebat, sehingga game tersebut pemainnya hanya berinteraksi dengan teks-teks yang ada dan sedikit gambar.
Dampak positif game online
1.      Permainan game online akan melatih pemainnya untuk dapat memenangkan permainan dengan cepat, efisien dan menghasilkan lebih banyak poin karena, setiap game memiliki tingkat kesulitan/level yang berbeda.
2.      Meningkatkan konsentrasi.Kemampuan konsentrasi pemain game online akan meningkat karena mereka harus menyelesaikan beberapa tugas.
3.      Meningkatkan koordinasi tangan dan mata. Penelitian yang dilakukan di Manchester University dan Central Lanchashire University menyatakan bahwa orang yang bermain game 18 jam seminggu atau sekita dua setengah jam perhari dapat meningkatkan koordinasi antara mata dan tangan
4.      Meningkatkan kemampuan membaca. Psikolog dari Finland Univesity menyatakan bahwa game meningkatkan kemampuan membaca pada anak-anak.
5.      Meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris. Sebuah studi menemukan bahwa gamers mempunyai skil berbahasa inggris yang lebih baik meskipun tidak mengambil kursus pada masa sekolah maupun kuliah. Ini karena banyak alur cerita yang diceritakan dalam bahasa inggris dan kadang kala mereka chat dengan pemain lain dari berbagai negara.
6.      Meningkatkan pengetahuan tentang komputer. Untuk dapat menikmati permainan dengan nyaman dan kualitas gambar yang prima seorang peman game online akan berusaha mencari informasi tentang spesifikasi komputer dan koneksi internet yang dapat digunakan untuk memainkan game tersebut.

Dampak Negatif Game Online
1.      Menimbulkan adiksi (Kecanduan) yang kuat
2.      Mendorong melakukan hal-hal negatif
3.      Berbicara kasar dan kotor
4.      Terbengkalainya kegiatan di dunia nyata
5.      Perubahan pola makan dan istirahat
6.      Pemborosan
Bagi orang tua diluar sana yang memiliki anak yang sudah dekat dengan game online hal yang perlu kita khawatirkan adalah bagaimana mencegah mereka untuk tidak kecanduan terhadap game online, tidak melalaikan tugas dan pekerjaan sekolah serta tidak menjadi pribadi yang tidak sehat karena keranjingan game online. Maka dari itu kita dapat melihat gejala apabila anak telah kecanduan bermain game online, yaitu :
1.      perhatikan apabila anak bermain seharian atau lebih dari tiga jam
2.      perhatikan apabila bermain untuk kesenangan, kecendrungan seperti tak mau diganggu atau marah saat dilarang bermain
3.      perhatikan apabila meninggalkan pekerjaan sekolah, mengorbankan kegiatan sosial dan olahraga
apabila anak telah mengalami tiga gejala diatas maka dapat disimpulkan sang anak telah menghabiskan terlalu banyak waktu untuk bermain game online dan menunjukkan gejala kecanduan akan game online.
Kesimpulannya, bermain game online dapat memicu kreativitas dan daya berpikir cepat seseorang. Tetapi jika kita tidak dapat mengendalikan diri dengan benar maka hal-hal yang ditimbulkan dapat berbahaya.


Sources :
http://library.gunadarma.ac.id/repository/view/10662/dampak-bermain-game-online-terhadapmotivasi-berprestasi-bidang-akademik-padamahasiswa.html/
http://www.academia.edu/6127239/Dampak_Game_Online_Terhadap_Psikologis_Anak
https://fharyhadiyan.wordpress.com/2013/01/16/pengaruh-positif-dan-negatif-game-online/