A.
Pengertian
Anak Berbakat
Menurut Joseph Renzulli
(1978), anak berbakat merupakan satu interaksi diantara tiga sifat dasar
manusia yang menyatu ikatan terdiri dari kemampuan umum dengan tingkatnya di
atas kemampuan rata- rata, komitmen yang tinggi terhadap tugas dan kreativitas
yang tinggi.
Menurut Swssing (1985) Anak
berbakat ialah anak yang memiliki kecakapan dalam mengembangkan gabungan ketiga
sifat ini dan mengaplikasikan dalam setiap tindakan yang bernilai. Anak-anak
yang mampu mewujudkan ketiga sifat itu masyarakat memperoleh kesempatan
pendidikan yang luas dan pelayanan yang berbeda dengan program-program
pengajaran yang reguler.
Menurut
Marland (1972) Anak berbakat adalah mereka yang diidentifikasi oleh ahli yang
profesional sebagai memiliki kemampuan yang menonjol untuk berkinerja tinggi.
Anak-anak ini memerlukan program pendidikan dan atau pelayanan yang dibedakan,
melebihi yang biasa disediakan oleh program sekolah reguler, agar dapat
merealisasikan kontribusinya terhadap dirinya sendiri maupun masyarakat.
Jadi
dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa, Anak berbakat adalah
anak yang memiliki kecakapan dalam berinteraksi di antara tiga sifat dasar
manusia dimana mereka telah diidentifikasi oleh ahli sebagai memiliki kemampuan
menonjol untuk berkinerja tinggi.
B.
Ciri-ciri Anak Berbakat
Menurut
Matinson (1974) ciri-ciri anak berbakat yaitu :
1.
Mempunyai pengamatan yang tajam. Sesuatu yang biasa saja
di mata orang orang menjadi hal yang sangat menarik dan harus dianalisis oleh
anak berbakat.
2.
Dapat berkonsentrasi untuk waktu yang panjang pada tugas
dan minatnya.
3.
Berpikir kritis, bahkan terhadap diri sendiri. Anak
berbakat lebih banyak bertanya terhadap apa yang ada di lingkungannya dan
terhadap dirinya sendiri. Jika memiliki masalah, anak berbakat tidak hanya
menanyakan kenapa dirinya bisa seperti ini tapi juga menganalisa ke belakang
dan dampaknya ke depan.
4.
Senang mencoba hal-hal baru. Anak berbakat cenderung
penantang dalam mencari pengalaman. Keinginan anak berbakat atas segala hal
yang menarik baginya diikuti oleh keinginan yang kuat dan kefokusan yang lebih
tinggi dibandingkan dengan anak normal pada umumnya.
5.
Mempunyai daya abstraksi, konseptualisasi, dan sintesis
yang tinggi.
6.
Senang terhadap kegiatan intelektual dan pemecahan
masalah.
7.
Cepat menangkap hubungan-hubungan sebab akibat.
8.
Berperilaku terarah pada tujuan. Anak berbakat memiliki
tingkat kefokusan tinggi pada tujuan akhirnya.
9.
Mempunya daya imajinasi yang kuat.
10.
Memiliki banyak kegemaran. Mempunyai daya tarik pada
banyak hal dan tetap fokus pada banyak hal tersebut.
11.
Mempunyai daya ingat yang kuat.
12.
Tidak cepat puas dnegan prestasinya.
13.
Peka (sensitif) dan menggunakan intuisi (firasat).
14.
Menginginkan kebebasan dalam gerakan dan tindakan.
C.
Implementasi dalam Pembelajaran
Perlu dipahami adalah bahwa anak berbakat umumnya tidak hanya belajar lebih cepat, tetapi juga sering menggunakan cara yang berbeda dari teman-teman seusianya. Hal ini tidak jarang membuat guru di sekolah mengalami kewalahan, bahkan sering merasa terganggu dengan anak-anak seperti itu. Di samping itu anak berbakat istimewa biasanya memiliki kemampuan menerima informasi dalam jumlah yang besar sekaligus. Jika ia hanya mendapat sedikit informasi maka ia akan cepat menjadi “kehausan” akan informasi.
Perlu dipahami adalah bahwa anak berbakat umumnya tidak hanya belajar lebih cepat, tetapi juga sering menggunakan cara yang berbeda dari teman-teman seusianya. Hal ini tidak jarang membuat guru di sekolah mengalami kewalahan, bahkan sering merasa terganggu dengan anak-anak seperti itu. Di samping itu anak berbakat istimewa biasanya memiliki kemampuan menerima informasi dalam jumlah yang besar sekaligus. Jika ia hanya mendapat sedikit informasi maka ia akan cepat menjadi “kehausan” akan informasi.
Implikasi
bagi guru anak berbakat menurut Barbie dan Renzulli (1975) adalah sebagai
berikut:
1.
Guru perlu memahami diri sendiri, karena anak yang
belajar tidak hanya dipengaruhi oleh apa yang dilakukan guru, tetapi juga
bagaimana guru melakukannya.
2.
Guru perlu memiliki pengertian tentang keterbakatan
3.
Guru hendaknya mengusahakan suatu lingkungan belajar
sesuai dengan perkembangan yang unggul dari kemampuan-kemampuan anak
4.
Guru memberikan tantangan daripada tekanan
5.
Guru tidak hanya memperhatikan produk atau hasil belajar
siswa, tetapi lebih-lebih proses belajar.
6.
Guru lebih baik memberikan umpan balik daripada penilaian
harus menyediakan beberapa alternatif strategi belajar
7.
Guru hendaknya dapat menciptakan suasana di dalam kelas
yang menunjang rasa harga diri anak serta dimana anak merasa aman dan berani mengambil
resiko dalam menentukan pendapat dan keputusan.
Sources
:
https://mellyhandayanicyrus.wordpress.com/2015/05/16/implementasi-teori-barbe-dan-renzulli-dalam-pembelajaran/
https://mellyhandayanicyrus.wordpress.com/2015/05/16/implementasi-teori-barbe-dan-renzulli-dalam-pembelajaran/
http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_BIASA/195106011979031-DIDI_TARSIDI/Makalah%26Artikel_Tarsidi_PLB/GIFTED.pdf
https://fatinahmunir.blogspot.co.id/2012/08/ciri-ciri-anak-berbakat-menurut.html
