Kamis, 27 Desember 2018

Model Sistem E-Therapy


Group project by : 
Megaputri Caesaria (14515113) 
Nina Kusuma Dewi (15515071) 
Wella Wulandari  (17515115)

 Setelah tahun-tahun berlalu dan dunia telah berkembang, profesi psikologi pun juga telah berevolusi. Profesi psikolog dan psikoterapis kini tidak lagi di batasi oleh batas-batas geografis. Setelah melalui riset dan mengikuti arus perkembangan zaman, dalam beberapa tahun terakhir kita telah mengalami pembaharuan yang dinamakan E-Therapy. Tidak ada definisi yang tepat tentang e-therapy, melainkan mencakup kontak atau komunikasi elektronik apapun antara terapis dan klien misalkan melalui e-mail atau konversi video. 
Keuntungan utama dari proses ini adalah, klien yang hingga kini ragu-ragu untuk mencari layanan psikolog, klien yang pemalu atau sulit mencari bantuan profesional secara terbuka dapat menemukan konsultasi online sebagai awal yang baik. Aspek penting lainnya adalah manfaat terapi email untuk klien yang tidak dapat mengakses terapi tatap muka karena alasan geografis, karena alasan kecacatan, atau karena keadaan hidup yang berada dalam hubungan yang kejam di mana mencari pertolongan di luar rumah akan sulit, e-therapy adalah penyedia layanan dengan fleksibilitas yang tinggi menjadikan nya keuntungan terkuat. Studi awal yang melakukan riset tentang videoconferencing untuk terapi sebagian besar terjadi di Amerika Serikat, Australia dan Skotlandia dan telah menguji berbagai model dan metode terapeutik, termasuk psikoanalisis terapi kognitif-perilaku, terapi keluarga dan video-hypnosis. Selain itu, berbagai kelompok klien telah terlibat, termasuk anak-anak dan keluarga, orang dewasa dan lansia. Sampai saat ini, masih ada investigasi apakah kelompok klien tertentu mendapat manfaat lebih banyak atau lebih sedikit dari terapi berbasis video conferencing. Namun, sejauh ini, telah ditemukan memiliki manfaat untuk klien dengan berbagai masalah, termasuk bulimia nervosa, obesitas dan skizofrenia.
Setiap layanan berbasis web harus fokus pada pentingnya batas privasi, kerahasiaan dan keamanan. Terapis harus mengadakan setidaknya pertemuan tatap muka pertama dengan klien untuk mengidentifikasi dan menentukan apakah dapat menggunakan e-terapi dengan klien pada kasus nya. 
SISTEM PADA E-THERAPY/TERAPI ONLINE

1.      Pada gambar diatas merupakan sebuah aplikasi E-Therapy. Langkah pertama yang harus dilakukan yaitu Log in jika sudah memiliki akun atau jika belum memiliki akun maka harus membuatnya terlebih dahulu dengan memilih Register now.

    Jika sudah log in atau masuk maka akan muncul gambar diatas, yang merupakan form data diri yang harus klien isi terlebih dahulu sebelum memulai konsultasi dan terapi.

 Jika sudah mengisi form data diri maka akan muncul tampilan seperti diatas. Untuk Journal klien dapat membaca mengenai masalah-masalah psikologis, Profil Terapis klien dapat melihat profil dari para terapis yang ada pada E-therapy, Counsult and Therapy klien dapat berkonsultasi mengenai masalah yang dialami klien dan kemudian melakukan terapi untuk mengatasi permasalahan klien.




2.     Setelah memilih Counsult and Therapy klien akan melakukan konsultasi dan terapi online dengan terapis melalui video call yang tersedia pada aplikasi e-therapy atau terapi online.
2.  
1.      


Sabtu, 10 November 2018

TUGAS 2 : SISTEM INFORMASI PSIKOLOGI

A. Sistem
Menurut Poerwadarminta (2003) sistem adalah sekelompok bagian-bagian yang berupa alat dan lain sebagainya, yang bekerja sama untuk melaksanakan tujuan tertentu.
Selain itu, menurut Jogiyanto (2005) sistem adalah suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan, berkumpul bersama-sama untuk melakukan suatu kegiatan untuk menyelesaikan suatu sasaran yang tertentu.
Sedangkan menurut Gaol (2008) sistem adalah hubungan satu unit dengan unit lainnya yang saling berhubungan satu sama lainnya dan yang tidak dapat dipisahkan serta menuju satu kesatuan dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Berdasarkan pengertian beberapa tokoh tersebut, dapat disimpulkan bahwa sistem adalah sekelompok bagian-bagian yang saling berhubungan untuk melakukan kegiatan guna mencapai tujuan tertentu.

B. Elemen Sistem
     Menurut Anggraeni & Irvani (2017) elemen sistem adalah bagian terkecil sistem yang dapat di identifikasikan. jika sebuah sistem cukup besar yang terdiri dari subsistem-subsistem, maka elemen sistem terdapat pada tingkatan yang paling rendah yang dapat di kategorikan sebagai individu.

Elemen-elemen sistem terdiri dari:
Energi : Memiliki atribut yaitu jumlah dan ongkos energi.
Tenaga kerja : Memiliki atribut, yaitu jumlah tenaga kerja dan upah.
Mesin dan Peralatan : Memiliki atribut, yaitu jenis, jumlah dan kapasitas.
Bahan baku : Memiliki atribut, yaitu harga barang baku, jumlah bahan baku dan ongkos.
Bahan Produk : Memiliki atribut jumlah permintaan, jumlah produk dan harga jual.


C. Karakteristik Sistem
     Menurut Anggraeni & Irvani (2017) sistem mempunyai beberapa karaktersitik atau sifat tertentu, antara lain:

Komponen Sistem (Component): Suatu sistem terdiri dari sejumlah komponen yang salin berinteraksi, yang saling bekerja sama membentuk suatu komponen sistem.
Batasan Sistem (Boundary): Merupakan daerah yang membatasi suatu sistem dengan sistem yang lain dengan lingkungan kerja nya.
Subsistem (Sub System): Bagian-bagian dari sistem yang beraktivitas dan berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan dengan sasaran nya masing-masing.
Lingkungan Luar sistem (Environment): Suatu sistem yang ada di luar dari batas sistem yang dipengaruhi oleh operasi sistem.
Penghubung Sistem (Interface): Media penghubung antara suatu sub sistem dengan sub sistem lain. Adanya penghubung ini memungkinkan berbagai sumber daya mengalir dari suatu sub sistem ke sub sistem lain nya.
Masukan Sistem (Input): Energi yang masuk ke dalam sistem, berupa perawatan dan sinyal. Masukan perawatan adalah enerdi yang dimasukan supaya sistem tersebut dapat berinteraksi.
Keluaran Sistem (Output): Hasil energi yang diolah dan diklasifikasikan menjadi keluaran yang berguna dan sisa pembuangan.
Pengolahan Sistem (Process): Suatu sistem dapat mempunyai suatu bagian pengolahan yang akan mengubah masukan menjadi keluaran.
Sasaran Sistem (Object): Tujuan yang ingin dicapai oleh sistem, akan dikatakan berhasil apabila mengenai sasaran atau tujuan.

D. Kriteria Sistem
     Menurut Anggraeni & Irvani (2017) ada beberapa kriteria sistem, diantaranya adalah sebagai berikut:

Sistem Deterministik: Sistem yang beroprasi melalui cara yang dapat diramalkan secara tepat. Misalnya program komputer yang melaksanakan secara tepat sesuai dengan rangkaian instruksinya.
Sistem Probabilistik: Sistem yang dapat diuraikan dalam perilaku yang mungkin, tetapi selalu ada sedikit kesalahan ramalan terhadap jalan nya sistem.
Sistem Tertutup: Sistem yang mandiri (Self Contained), sistem ini tidak bertukar materi, infomasi atau energi dengan lingkungan nya.
Sistem Relatif Tertutup: Sistem yang relatif tersosialisasi dari lingkungan nya tetapi tidak sama sekali tertutup dalam arti fisik, hanya menerima masukan yang telah ditentukan sebelumnya, dengan mengelola dan memberi keluaran, yang juga telah ditentukan sebelumnya serta memiliki masukan dan keluaran yang terkendali.
Sistem Terbuka: Sistem yang mengadakan pertukaran informasi, materi atau energi dengan lingkungan nya. Sistem ini cenderung memiliki adaptasi, yaitu dapat menyesuaikan diri terhadap perubahan dalam lingkungan nya, sehingga dapat meneruskan eksistensi nya. Sistem ini juga mengorganisasikan diri dan mengubah organisasinya sebagai tanggapan atas perubahan keadaan.

E. E-Therapy
      Setelah tahun-tahun berlalu dan dunia telah berkembang, profesi psikologi pun juga telah berevolusi. Profesi psikolog dan psikoterapis kini tidak lagi di batasi oleh batas-batas geografis. Setelah melalui riset dan mengikuti arus perkembangan zaman, dalam beberapa tahun terakhir kita telah mengalami pembaharuan yang dinamakan E-Therapy. Tidak ada definisi yang tepat tentang e-therapy, melainkan mencakup kontak atau komunikasi elektronik apapun antara terapis dan klien misalkan melalui e-mail atau konversi video. 
Keuntungan utama dari proses ini adalah, klien yang hingga kini ragu-ragu untuk mencari layanan psikolog, klien yang pemalu atau sulit mencari bantuan profesional secara terbuka dapat menemukan konsultasi online sebagai awal yang baik. Aspek penting lainnya adalah manfaat terapi email untuk klien yang tidak dapat mengakses terapi tatap muka karena alasan geografis, karena alasan kecacatan, atau karena keadaan hidup yang berada dalam hubungan yang kejam di mana mencari pertolongan di luar rumah akan sulit, e-therapy adalah penyedia layanan dengan fleksibilitas yang tinggi menjadikan nya keuntungan terkuat. Studi awal yang melakukan riset tentang videoconferencing untuk terapi sebagian besar terjadi di Amerika Serikat, Australia dan Skotlandia dan telah menguji berbagai model dan metode terapeutik, termasuk psikoanalisis terapi kognitif-perilaku, terapi keluarga dan video-hypnosis. Selain itu, berbagai kelompok klien telah terlibat, termasuk anak-anak dan keluarga, orang dewasa dan lansia. Sampai saat ini, masih ada investigasi apakah kelompok klien tertentu mendapat manfaat lebih banyak atau lebih sedikit dari terapi berbasis video conferencing. Namun, sejauh ini, telah ditemukan memiliki manfaat untuk klien dengan berbagai masalah, termasuk bulimia nervosa, obesitas dan skizofrenia.

Setiap layanan berbasis web harus fokus pada pentingnya batas privasi, kerahasiaan dan keamanan. Terapis harus mengadakan setidaknya pertemuan tatap muka pertama dengan klien untuk mengidentifikasi dan menentukan apakah dapat menggunakan e-terapi dengan klien pada kasus nya. 

Kamis, 04 Oktober 2018

SISTEM INFORMASI PSIKOLOGI


BAB I
PENDAHULUAN
Tidak dapat dipungkiri, kehidupan manusia saat ini sangat erat dengan teknologi dan sistem yang tersusun secara modern. Kegiatan sehari-hari manusia dipermudah dengan berbagai teknologi yang ada. Pertukaran informasi juga berlansung secara cepat. Tidak ada lagi waktu lama untuk menunggu datangnya surat atau berita terkini, semua sudah ada dalam genggaman tangan manusia melalui smartphone. Kemajuan teknologi saat ini juga mempengaruhi perkembangan keilmuan psikologi, dimana sudah ada biro-biro psikologi yang menawarkan konseling secara online. Untuk itu marilah kita lihat terlebih dahulu penjelasan mengenai sistem informasi dalam bidang psikologi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi Sistem
Menurut Poerwadarminta (2003) sistem adalah sekelompok bagian-bagian yang berupa alat dan lain sebagainya, yang bekerja sama untuk melaksanakan tujuan tertentu.
Selain itu, menurut Jogiyanto (2005) sistem adalah suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan, berkumpul bersama-sama untuk melakukan suatu kegiatan untuk menyelesaikan suatu sasaran yang tertentu.
Sedangkan menurut Gaol (2008) sistem adalah hubungan satu unit dengan unit lainnya yang saling berhubungan satu sama lainnya dan yang tidak dapat dipisahkan serta menuju satu kesatuan dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Berdasarkan pengertian beberapa tokoh tersebut, dapat disimpulkan bahwa sistem adalah sekelompok bagian-bagian yang saling berhubungan untuk melakukan kegiatan guna mencapai tujuan tertentu.
B. Definisi Informasi
Menurut Bodnar & Hopwood (2000) informasi merupakan data yang diolah sedemikian rupa sehingga bisa dijadikan dasar dalam mengambil sebuah keputusan yang tepat dan benar.
Menurut Jogiyanto (2005) informasi adalah hasil dari pengolahan data dalam suatu bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi penerimanya, yang menggambarkan suatu kejadian-kejadian yang nyata yang berguna untuk para pengambil keputusan.
Selain itu, menurut Alamsyah (2005) informasi adalah data yang telah diolah dengan cara tertentu sesuai dengan bentuk yang diperlukan.
Menurut Sutabri (2012) informasi adalah data yang diolah dan diinterpretasikan untuk mengambil sebuah keputusan.
Berdasarkan pengertian menurut tokoh diatas, dapat disimpulkan bahwa informasi adalah hasil pengolahan data yang diolah dengan cara tertentu lalu diinterpretasikan untuk digunakan dalam pengambilan keputusan.
C. Definisi Psikologi
Menurut Aristoteles & Plato (dalam Daulay, 2014) Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang hakikat jiwa serta prosesnya sampai akhir.
Menurut Clifford T. Morgan (dalam Sarwono, 2009) berpendapat bahwa psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dan hewan.
Sedangkan Gardner Murphy (dalam Sarwono, 2009) berpendapat bahwa psikologi adalah ilmu yang mempelajari respons yang diberikan oleh makhluk hidup terhadap lingkungannya.
Berdasarkan pengertian menurut tokoh diatas, dapat disimpulkan bahwa psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dalam merespon lingkungannya.
D. Sistem Informasi Psikologi
Berdasarkan pengertian istilah-istilah diatas, maka dapat disimpulkan bahwa sistem informasi psikologi adalah suatu sistem yang didalamnya terdapat kombinasi dari manusia dan teknologi yang dimaksudkan mengolah data mengenai perilaku manusia sehingga menghasilkan informasi yang dapat digunakan untuk tujuan tertentu. 
E. Contoh Kasus
Kemajuan teknologi saat ini juga mempengaruhi perkembangan keilmuan psikologi, dimana sudah ada biro-biro psikologi yang menawarkan konseling atau tes psikologi secara online. Adanya konseling dan tes psikologi online tersebut membantu klien yang tidak memiliki waktu untuk bertemu lansung dengan konselor atau psikolognya. Hal lain yang berkembang adalah adanya aplikasi-aplikasi yang dibuat untuk membantu tes-tes psikologi, seperti VmWare Workstation yang berisi rangkaian tes-tes kepribadian dan intelegensi yang dapat dilakukan secara individu oleh klien. Kemudian, hasilnya juga lansung dapat muncul dalam bentuk score.

BAB III
PENUTUP
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa sistem informasi psikologi adalah suatu sistem yang didalamnya terdapat kombinasi dari manusia dan teknologi yang dimaksudkan mengolah data mengenai perilaku manusia sehingga menghasilkan informasi yang dapat digunakan untuk tujuan tertentu. Kemajuan teknologi saat ini juga mempengaruhi perkembangan keilmuan psikologi, dimana sudah ada biro-biro psikologi yang menawarkan konseling atau tes psikologi secara online.
Namun tidak dapat dipungkiri, konseling dan tes psikologi online tersebut juga dapat menimbulkan bias dan ’faking good’ bagi klien. Sehingga diharapkan tetap adanya pertemuan lansung antara psikolog/konselor dengan klien.

DAFTAR PUSTAKA

Daulay, N. (2014). Pengantar psikologi dan pandangan Al-Quran tentang psikologi. Jakarta:                               Kencana.
Gaol, J.L. (2008). Sistem informasi manajemen. Jakarta : PT Gramedia
Jogiyanto. (2005). Analisis dan desain sistem informasi.Yogyakarta : Penerbit Andi                                Poerwadarminta, W.J.S. (2003). Kamus umum bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
Sarwono, S. W. (2009). Pengantar psikologi umum. Jakarta : Rajawali Pers














Senin, 01 Januari 2018

KURIKULUM BERDIFERENSIASI PADA ANAK BERBAKAT

Kurikulum merupakan metode menyusun kegiatan-kegiatan belajar mengajar untuk menghasilkan perkembangan kognitif, efektif, dan psikomotorik anak. Menurut Sato (1982) kurikulum mencakup semua pengalaman yang diperoleh siswa di sekolah, di rumah dan dalam masyarakat, dan yang membantunya mewujudkan potensinya.

Kurikulum berdiferensiasi adalah jawaban terhadap perbedaan-perbedan dalam minat dan kemampuan anak didik. Sehingga, dengan kurikulum berdiferensiasi setiap anak memiliki peluang besar untuk terus meningkatkan kemampuannya tanpa harus terikat oleh satu kurikulum umum yang menyamaratakan kemampuan seluruh anak. Kendati demikian, pada dasarnya kurikulum berdiferensiasi tetap bertitik tolak pada kurikulum umum yang menjadi dasar bagi semua anak didik. Kurikulum berdiferensiasi juga memberikan pengalaman belajar berupa dasar-dasar keterampilan, pengetahuan, pemahaman, serta pembentukan sikap dan nilai yang memungkinkan anak didik berfungsi sesuai dengan tuntutan masyarakat atau jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Berbeda dengan kurikulum umum yang bertujuan untuk dapat memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anak pada umumnya, maka kurikulum berdiferensiasi merupakan jawaban terhadap perbedaan-perbedan dalam minat dan kemampuan anak didik. Sehingga, dengna kurikulum berdiferensiasi setiap anak memiliki peluang besar untuk terus meningkatkan kemampuannya tanpa harus terikat oleh satu kurikulum umum yang menyamaratakan kemampuan seluruh anak.

Menurut Kaplan (1977), perkembangan kurikulum dewasa ini menekankan penggunaan kurikulum secara fleksibel sesuai dengan kebutuhan guru dan siswa yang memungkinkan keragaman cara untuk mencapai sasaran belajar. Bahkan dalam kurikulum semacam ini tidak tertutup kemungkinan bahwa siswa pada saat-saat tertentu merumuskan sendiri sasaran-sasaran belajarnya.

Suatu kurikulum dapat berdiferensiasi melalui materi (konten atau muatan), proses, dan produk belajar yang lebih maju dan majemuk, serta dapat dirancang dengan cara sebagai berikut.

Kurikulum Berdiferensiasi Menyesuaikan dengan Kurikulum Umum

1. Menambah hal-hal baru yang menarik dan menantang bagi anak berbakat. Misalnya dengan menambahkan muatan tugas yang dianggap menantang kemampuan yang dimiliki anak berbakat.
2. Mengubah bagian-bagian tertentu yang kurang sesuai. Karena anak berbakat memiliki kemampuan memahami pelajaran dan pengetahuan yang melampaui anak pada umumnya, biasanya pemberian materi kepada anak berbakt lebih menyesuaika kemampuan anak. Sehingga, anada beberapa bagian yang diterima anak umum di kelas tetapi tidak diterima oleh anak berbakat.
3. Mengurangi kegiatan-kegiatan yang terlalu rutin. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, anak berbakat memiliki tingkat kemampuan memahami pelajaran yang lebih tinggi dibandingkan anak umum, jadi beberapa kegiatan atau pelajaran yang dapat dikerjakan sendiri dan tanpa bantuan berarti dari pendidik sebaiknya dikurangi.
4. Meluaskan dan mendalami materi. Karena sifat yang cenderung kurang puas dan mendetail, pemberian materi pembelajaran kepada anak berbakat sebaiknya lebih diluaskan dan mendalam.

Kurikulum Berdiferensiasi dengan Menggunakan Kurikulum yang Baru atau Khusus
Cara kedua ini adalah dengan menggunakan kurikulum yang benar-benar berbeda dengan anak umum dan disesuaikan dengan keberbakatan anak.
Untuk menyusun sebuah kurikulum, pendidik harus mengetahui beberapa asas kurikulum sebagai berikut:

1. Berkaitan dengan mata pelajaran. Yaitu, kegiatan bekajar dikaitkan dengan mata pelajaran atau materi tertentu. Contohnya, ketika anak belajar bagian-bagian serangga, anak dapat mencari sendiri serangga-serangga yang akan dipelajarinya di lingkungan sekolah.
2. Berorientasi dengan proses. Maksudnya, kegiatan belajar mengajar  menekankan perkembangan keterampilan dan proses berpikir daripada hanya materi. Contohnya, ketika anak sudah mengenal bagian-bagian serangga, anak dapat menganalogikan bagian-bagian tersebut dengan bagian-bagian kendaraan.
3. Berpusat pada kegiatan aktif. Yaitu kegiatan belajar sepenuhnya mengikutsertakan anak secara aktif. Sehingga, dapat menghidupkan suasana keilmuan yang penuh akan diskusi dan saling bertukar pikiran.
4. Penerapan tugas berakhir terbuka.Dengan asas ini tidak ada istilah “benar” dan “salah” dalam hasil tugas siswa, tetapi seluruhnya berdasarkan pengalaman setiap anak.
5. Memungkinkan anak memilih. Asas ini memberikan peluang kepada setiap anak sesuai dengan kebutuhan, minat, dan kemampuan masing-masing. Sehingga, sekolah seharusnya menyediakan sarana atas minat dan bakat anak.

Tiga hal yang membedakan penerapan kurikulum berdiferensiasi dengan kurikulum umum:
1. Konten. Muatan atau materi yang diberikan kepada anak berbekat berbeda-beda sesuai dengan minat dan kemampuan anak.
2. Proses. Proses belajar anak berbakat, entah itu waktu maupun caranya, dibedakan dengan anak umumnya sesuai dengan tingkat kemampuan anak.
3. Produk. Dalam hal penugasan, anak berbakat diberikan beban produk yang lebuh rumit dan kompleks daripada anak umum. Produk belajar itu sendiri dapat berupa lisan, tulisan, ataupun benda.

Sumber : https://fatinahmunir.blogspot.co.id/2012/08/kurikulum-berdiferensiasi-untuk-anak.html?m=1